oleh : Jakariya Nugraha
Pendahuluan
Di zaman serba cepat dan serba sibuk
seperti seperti, manusia dituntut untuk melakukan pekerjaan yang serba
cepat, efisien dan efektif. Sehingga pilihan-pilihan produk instan yang
tidak terlalu memerlukan waktu banyak dan efektif menjadi pilihan. Dan
salah satunya adalah produk pembersih rumah tangga.
Sebanding dengan perkembangan zaman dan
perputaran waktu yang dirasakan oleh manusia abad 21 ini, ilmu
pengetahuan dituntu untuk bisa beradaptai dengan kondisi seperti ini.
Ilmu pengetahuan beradapatasinya dengan terus berinovasi-inovasi untuk
memberikan solusi pada permasalahan yang ada dizaman sekarang ini. Tidak
terkecuali dengan ilmu pengetahuan di bidang tekstil. Paradigma tentang
ilmu pengetahuan dibidang tekstil sekarang sudah mulai bergeser dari
sekedar pakaian menjadi loebih luas lagi. Dari mulai pembangunan fisik,
medis, otomitif dan juga produk pembersih rumah tangga.
Latar belakang
Mahasiswa sebagai salah satu bagian dari
lapisan masyarakat, dimana mahasiswa juga merasakan perputaran waktu
yang berjalan begitu cepatnya. Dengan jadwal kuliah yang padat ditambah
segudang aktifitasnya di luar akademik, tentunya menyita waktu yang
begitu banyak. Tetapi disisi lain mahasiswa, apalagi yang jauh dari
orang tua harus menyelasaikan pekerjaan rumah tangganya sendiri, dan
salah satunya adalah mencuci pakaiannya.
Jika mahasiswa tersebut dari kalangan
yang mampu, pastinya dia tidak ingin repot-repot dalam mencuci pakaian,
langsung saja dia pergi ke warung laundry. Tetapi untuk mahasiswa yang
biasa-biasa saja dan harus mengirit uang kiriman dari orang tuanya
dituntut untuk bisa berhemat. Selain berhemat uang juga berhemat waktu
karena dia dihadpkan dengan aktifitas yang seguadang.
Maka dari salah satu contoh masalah
inilah kemudian hadir suatu produk deterjen yang bisa membantu meringkan
beban pekerjaan dari paa penggunanya. Dan sebagai mahasiswa kami ingin
mencoba untuk meneliti dengan membandingkan kompisisi yang terdapat
dalam sampel deterjen dengan teorinya. Salah satu sampel yang akan kami
tinjau adalah Rinso anti noda cair konsentrat.
Teori
Sebagai bahan pembersih , deterjen
merupakan buah kemajuan teknologi yang memanfaatkan bahan kimia dari
hasil samping penyulingan minyak bumi, ditambah dengan bahan kimia
lainnya seperti fosfat, silikat, bahan pewarna, dan bahan pewangi.
sekitar tahun 1960-an, deterjen generasi awal muncul menggunakan bahan
kimia pengaktif permukaan (Surfaktan) Alkyl Benzene Sulfonat (ABS) yang
mampu menghasilkan busa. Namun karena sifat ABS yang sulit diurai oleh
mikroorganisme di permukaan tanah, akhirnya digantikan dengan senyawa
“Linier Alkyl Sulfonat (LAS) yang diyakini relatif lebih akrab dengan
lingkungan.
Pada banyak negara di dunia penggunaan
ABS telah dilarang dan diganti dengan LAS. Sedangkan di Indonesia,
peraturan mengenai larangan penggunaan ABS belum ada. Beberapa alasan
masih digunakannya ABS dalam produk deterjen, antara lain karena
harganya murah, kestabilannya dalam bentuk krim/pasta dan busanya
melimpah.
Kandungan Zat Kimia pada Deterjen
Dibanding dengan sabun, deterjen
mempunyai keunggulan antara lain mempunyai daya cuci yang lebih baik
serta tidak terpengaruh oleh kesadahan air. Pada umumnya, deterjen
mengandung bahan-bahan berikut :
- Surfaktan. Surfaktan (surface active agent) merupakan zat aktif permukaan yang mempunyai ujung berbeda yaitu hidrofil (suka air) dan hidrofob (suka lemak). Surfaktan merupakan zat aktif permukaan yang termasuk bahan kimia organik. Ia memiliki rantai kimia yang sulit didegradasi (diuraikan) alam. Bahan aktif ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoran yang menempel pada permukaan bahan, atau istilah teknisnya, ia berfungsi sebagai emulsifier, bahan pengemulsi.. Zat kimia ini bersifat toksik (beracun) bila dihirup, diserap melalui kulit atau termakan. Secara garis besar, terdapat empat kategori surfaktan yaitu:
• Anionik :
• Alkyl Benzene Sulfonate (ABS)
• Linier Alkyl Benzene Sulfonate (LAS)
• Alpha Olein Sulfonate (AOS)
• Kationik : Garam Ammonium
• Non ionik : Nonyl phenol polyethoxyle
• Amphoterik : Acyl Ethylenediamines
Builder. Builder (pembentuk) berfungsi
meningkatkan efisiensi pencuci dari surfaktan dengan cara menon-aktifkan
mineral penyebab kesadahan air.
• Fosfat : Sodium Tri Poly Phosphate (STPP)
• Asetat :
• Nitril Tri Acetate (NTA)
• Ethylene Diamine Tetra Acetate (EDTA)
• Silikat : Zeolit
• Sitrat : Asam Sitrat
- Filler. Filler (pengisi) adalah bahan tambahan deterjen yang tidak mempunyai kemampuan meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas. Contohnya Sodium sulfat.
- Aditif. Aditif adalah bahan suplemen / tambahan untuk membuat produk lebih menarik, misalnya pewangi, pelarut, pemutih, pewarna dst, tidak berhubungan langsung dengan daya cuci deterjen. Additives ditambahkan lebih untuk maksud komersialisasi produk. Contohnya Enzim, Boraks, Sodium klorida, Carboxy Methyl Cellulose (CMC)
Pemakaian deterjen kerap menimbulkan
persoalan baru, terutama bagi pengguna yang memiliki sifat sensitif.
Pengguna deterjen dapat mengalami iritasi kulit, kulit gatal-gatal,
ataupun kulit menjadi terasa lebih panas usai memakai deterjen.
Umumnya pada deterjen anionik ditambahkan zat aditif lain (builder) seperti :
• Golongan ammonium kuartener
(alkyldimetihylbenzyl-ammonium cloride, diethanolamine/DEA). Perlu
diketahui, zat kimia ini sering digunakan pada produk pembersih
perawatan tubuh untuk menjaga pH (derajat keasaman) formula. Dapat
menyebabkan reaksi alergi, iritasi mata, kekeringan, dan toksik jika
digunakan dalam waktu lama. Zat karsinogen ini telah dilarang di Eropa
tapi masih ditemukan pada formula kosmetik.
• Chlorinated trisodium phospate (chlorinated TSP). Zat kimia ini merupakan zat karsinogenik.
• Sodium lauryl sulfate (SLS). Zat kimia
ini dapat mengubah sistem imun (kekebalan) dan menyebabkan kerusakan
pada mata, saluran cerna, sistem saraf, paru-paru dan kulit. Umumnya
ditemukan pada produk berbusa untuk perawatan tubuh. Mungkin terdaftar
sebagai komponen produk semi natural yang diklaim berasal dari minyak
kelapa.
• Sodium laureth sulfate (SLES). Bila
dikombinasi dengan bahan lain, zat kimia ini membentuk zat nitrosamin
dan mempunyai efek karsinogen pada tubuh. Perlu kehati-hatian terhadap
produk semi natural yang diklaim berasal dari minyak kelapa.
• Linear alkyl benzene sulfonate (LAS). Zat kimia ini juga merupakan zat karsinogenik.
Dampak Penggunaan Sabun dan Deterjen Bagi Kesehatan dan Lingkungan
• Golongan ammonium kuartener itu dapat
membentuk senyawa nitrosamin. Senyawa nitrosamin diketahui bersifat
karsinogenik, dapat menyebabkan kanker.
• Senyawa SLS, SLES atau LAS mudah
bereaksi dengan senyawa golongan ammonium kuartener, seperti DEA untuk
membentuk nitrosamin tadi. Bukan cuma itu, SLS diketahui menyebabkan
iritasi pada kulit, memperlambat proses penyembuhan dan penyebab katarak
pada mata orang dewasa.
• LAS relatif mudah didegradasi secara
biologi ketimbang ABS. LAS bisa terdegradasi sampai 90 persen. Tapi
bukan berarti masalah selesai. LAS juga butuh proses. Jadi di bagian
ujung rantai kimianya harus dipecah. Ikatan o-meganya harus diputus dan
butuh proses beta oksidasi. Karena itu perlu waktu.
• Menurut penelitian, alam membutuhkan
waktu sembilan hari untuk mengurai LAS. Itu pun hanya sampai 50 persen.
Melihat bahwa saat ini banyak rumah tangga yang membuang sisa cuciannya
begitu saja tanpa pengolahan limbah sebelumnya, maka alam diharapkan
mampu mendegradasinya.
• Sebelum dibuang dan bercampur dengan
bahan baku air bersih, limbah cucian membutuhkan proses pengolahan yang
rumit. Agar senyawa detergen terurai, limbah harus mendapat sinar
ultraviolet yang cukup dan diendapkan sekitar tiga pekan. Makanya,
negara yang mengizinkan pemakaian LAS rata-rata sudah memiliki sistem
pengolahan air yang memadai.
• Proses penguraian deterjen akan
menghasilkan sisa benzena yang apabila bereaksi dengan klor akan
membentuk senyawa klorobenzena yang sangat berbahaya. Kontak benzena dan
klor sangat mungkin terjadi pada pengolahan air minum, mengingat
digunakannya kaporit (dimana di dalamnya terkandung klor) sebagai
pembunuh kuman pada proses klorinasi.
• Saat ini, instalasi pengolahan air
milik PAM dan juga instalasi pengolahan air limbah industri belum
mempunyai teknologi yang mampu mengolah limbah deterjen secara sempurna.
• Penggunaan fosfat sebagai builder dalam
deterjen perlu ditinjau kembali, mengingat senyawa ini dapat menjadi
salah satu penyebab proses eutrofikasi (pengkayaan unsur hara yang
berlebihan) pada sungai/danau yang ditandai oleh ledakan pertumbuhan
algae dan eceng gondok menyebabkan terjadinya pendangkalan sungai.
Pertanda lonceng kematian bagi kehidupan penghuni sungai.
• Di beberapa negara Eropa, penggunaan
fosfat telah dilarang dan diganti dengan senyawa substitusi yang relatif
lebih ramah lingkungan.
• Penggunaan deterjen dapat mempunyai
risiko bagi kesehatan dan lingkungan. Risiko deterjen yang paling ringan
pada manusia berupa iritasi (panas, gatal bahkan mengelupas) pada kulit
terutama di daerah yang bersentuhan langsung dengan produk.
• Hal ini disebabkan karena kebanyakan
produk deterjen yang beredar saat ini memiliki derajat keasaman (pH)
tinggi. Dalam kondisi iritasi/terluka, penggunaan produk penghalus
apalagi yang mengandung pewangi, justru akan membuat iritasi kulit
semakin parah.
• Sabun mandi memang menghasilkan buih
atau gelombang busa yang terlalu banyak. Formula soda ash atau detergen
memang diakui andal membersihkan kotoran di kulit tubuh. Namun, jika
digunakan di muka, minyak alami wajah Anda pun akan ikut tanggal. Bahkan
sabun bisa menyisakan drying residu di permukaan kulit. Dan hal ini
bisa mempercepat garis dan kerut muncul ke permukaan lebih cepat.
Kesimpulan
Deterjen ini termasuk deterjen anionic
(DAI) yaitu Merupakan detergen yang mengandung surfaktan anionik dan
dinetralkan dengan alkali. Detergen ini akan berubah menjadi partikel
bermuatan negatif apabila dilarutkan dalam air. Biasanya digunakan untuk
pencuci kain. Kelompok utama dari detergen anionik adalah :
- Rantai panjang (berlemak) alkohol sulfat
- Alkil aril sulfonat
- Olefin sulfat dan sulfonat
Secara umum, apa ayng terteara dalam
kemasan deterjen ini sama dengan apa yang teori yang ada, hanya seja
didalam kemasannya masih ada yang bisa menimbulkan perpresi yang
negative.
Daftar Pustaka
- SNI 06-2147-1991 Natrium Alkil Benzen Sulfonat
- Widiarti Wiwin “Pembatasan penggunann surfaktan alkilfenol etoksilat di industry karena dampaknya terhadap lingkungan” Arena Tekstil Vol.23 oktober 2008, Balai Besar Tekstil, Bandung
- http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.chemicalbook.com/ChemicalProductProperty_EN_CB1875601.htm
- http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-smk/kelas_xi/sifat-fisis-dan-kimia-detergen-pembuatan-dan-komposisi-detergen/
- http://pustan.bpkimi.kemenperin.go.id/files/SNI%2006-2147-1991.PDF
- http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._KIMIA/196802161994022-SOJA_SITI_FATIMAH/Kimia_industri/INDUSTRI_DETERJEN.pdf
- http://kimia07.blogspot.com/2010/12/alkil-benzena.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar