Oleh : Jakariya Nugraha
Untuk sebagian orang dan bagi orang yang
“tersesatkan” oleh keduianwian, kadang mereka berfikir untuk apa hidup
ini ??????? hidup ini cape…!!!!!! Dan rasanya ingin bunuh diri saja.
Tidak dapat disalahkan memang mereka berkata seperti itu. Entah itu
suatu pelarian sesaat dari carut marutnya hidup mereka ataupun memang
itu ekspresi murni karena tidak kuat dalam mengalami berbagai cobaan
hidup yang dia terima. Yang pasti memang semua orang “pasti” pernah
berkata seperti itu.
Memang jika kita teliti lebih mendalam
lagi, terkadang manusia tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki
sehingga mengakibatkan suatu sindrom untuk terberusaha mewujudkan
keinginannya tersebut. Hal itu sangatlah wajar, karena sudah menjadi
barang tentu itu adalah keniscayaan dari tabiat asli manusia. Tetapi
yang patut digasir bawahi adalah ketika keinginan ini adalah keinginan
yang positif apalagi menghasilkan hasil yang positif. Seperti keinginan
untuk melampiaskan kehausan intelektual, keinginan memperbaiki kondisi
perokonomian diri, keinginan untuk menambah kapasitas diri dll.
Terkadang setiap kali menjalankan proses
mewujudkannya, ada pada saat-saat tertentu manusia seakan mendapatkan
beban dengan muncul berbagai ujian-ujian yang mempersulit pergerakannya.
Sekali lagi itu adalah suatu keniscayaan, dimana manusia tidak bisa
mengelak dari yang nama “ujian” apalagi “ujian hidup” walaupun dia
hanya berdiam diri saja. Contoh kecil, ujian bagi orang yang hanya
berdiam diri saja (pengangguran) dia tidak bisa banyak menikmati enaknya
berbagai fasilitas hidup, dia tidak punya uang untuk membayarnya karena
dia tidak bekerja. Sehingga ada semacam paksaan secara tersirat dalam
hidupnya, dimana dengan kondisi yang seperti itu dia dituntut untuk
berjuang menyelamatkan dirinya sendiri dari jeratan kemiskinan dan
kemalasan.
Ketidak selarasan hidup ini menjadi
factor pertama pendorong manusia berjuang dalam hidupnya. Sangatlah
bagus ketika dalam kondisi diamanya saja sudah tidak ada celah lagi
untuk menghindar, ya kita haruslah melawannya. Ketika dihadapkan dengan
permasalah, satu-satunya jalan yang menguntungkan adalah berjuang
melawan. Walaupun terkadang sakit, ya itu seakan menjadi pemanis dari
lika-liku kehidupan.
Berjuang adalah tingktakan hasil yang
tinggi dari aksi perlawanan, dimana dilakukan dengan bersungguh-sungguh.
Berjuang adalah identitas tersendiri dari jiwa-jiwa seorang pahlawan.
Makna pahlawan tidak sempit sebagai penyelamat saat perang saja. Tetapi
lebih dari itu, pahlawan bisa saja penyelamat dari dirinya sendiri
maupun orang lain dari saat kapanpun dan dimana pun juga. Perjuangan
yang dilakukan dengan kesunguhan pasti akan menghasilkan out put yang
positif, meskipun manis ataupun pahit yang dirasakan.
Jika kita tarik benag merah
dari inti hidup dan perjuangan maka akan muncul suatu makna hidup yang
baru yaitu ibadah. Ibadah bukan hanya sekedar ritual dan seremonial
keyakinan saja. Akan tetapi semua yang dilakukan yang disertai niat yang
tulus untuk mengharapkan ridhoNya, itu adalah ibadah. Apalagi jika
dilakukan dengan bersungguh-sungguh, itu adalah ibadah yang paling
tinggi derajatnya. Jihad….. itu lah ibadah yang paling tinggi derajat
nilai pahalanya.
So, karena hidup ini adalah
perjuangan dan perjuangan adalah ibadah. Yuk, kita bersama-sama berjuang
dalam menjalani sisa-sisa hidup kita didunia ini. Karena pada
hakekatnya hisup didunia ini adalah perjalanan menuju kehidupan yang
abadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar