Oleh : Jakariya Nugraha
“Bismillahirrahmannirrahim….. Dengan
menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyanyang. Sungguh
manusia bukan lah apa-apa dibandingkanNya. Dia yang memberikan segala
sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia. Jiwa-jiwa yang kosong dan raga
yang lemah dijadikannya berisi dan kuat. Hati yang gersang dan pikiran
yang kotor, bisa Dia buat bersih. Takkan ada mahluk apapun didunia ini
yang mampu menandingiNya, karena Dialah sang Pecipta segalanya tanpa
terkecuali jiwa yang lemah ini.”
Dunia kini sudah masuk pada fase akhir
zaman. Semua permasalahan yang ada menjadi sangat kompleks dan
membutuhkan iman yang kuat. Pernah terlintas pemikiran plagmatis bahwa
islam yang benar-benar kaffah sulit sekali diterapkan. Astagfirulloh….
Untung saja itu hanya sepintas. Tetapi ada sebagian orang yang berusaha
mewujudkan penerapan tersebut. Mungkin inilah yang dikatakan oleh Rasul
dalam salah satu hadisnya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam
shohihnya dari Sahabat Abu Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda,
بدأ الإسلام غريبا وسيعود غريبا كما بدأ فطوبى للغرباء
“Islam ini pada awalnya dianggap aneh
dan akan kembali menjadi aneh sebagaimana awalnya dan beruntunglah
orang-orang yang dianggap aneh saat itu.” [HR. Muslim dalam Shohihnya, Kitab Iman (145), dan Sunan Ibnu Majah bab Al-Fitan (3986), Musna Imam Ahmad bin Hambal (2/389)]
Para “ghuroba” berusaha berbuat baik ketika banyak yang telah rusak. Merekalah yang tetap istiqomah dengan jalan yang lurus
Dalam keberjalanan hidup manusia yang mahluk social, tentunya interaksi social tidak bisa dilepaskan. Begitupun dengan para “ghuroba” yang notabenenya adalah manusia biasa juga. Hal ini menuntut para “ghuroba” untuk
berinteraksi dengan manusia lain, yang mungkin pemahaman islam nya
tidak menyeluruh bahkan tidak tahu. Salah satu akibat dari hal ini
adalah terjadinya ikhtilat atau bercampur baurnya perempuan dan
laki-laki bukan mahrom tanpa hijab. Ikhtilat bisa terjadi dimanasaja dan
kapan saja tergantung interaksi social itu berlangsung. Tanpa
terkecuali kampus dan media maya.
Dalam konteks kekinian, jika berbicara kampus maka mungkin para “ghuroba” itu
salahsatunya adalah para ADK. Para ADK (Aktifis Dakwah Kampus) ini
adalah orang-orang yang dibina dan dibentuk untuk menyampaikan risalah
islam pada masyarakat kampus. Dalam kehidupan sehari-hari di kampus pun
ADK sering dibuat dilema dengan system yang ada. Kenapa dilema ????
bagaimana tidak, ADK yang berusaha untuk menjaga keimanannya untuk tidak
berihktilat dihadapkan pada keadaan bersebrangan 180ᴼ. Disisi
lain, misi menyampaikan nilai-nilai islam harus terus diusung. Sehingga
mau tidak mau ADK harus masuk ke system tersebut dan berusaha
mewarnainya. Kejadian ikhtilat dikampus ini bisa saat mengerjakan tugas kelompok, praktikum, rapat di organisasi amah atau yang lainya.
Fenomena ikhtilat saat ini sudah mulai canggih seiring dengan perkembangan zaman. Saat ini ikhtilat bisa terjadi meskipun tidak ada interaksi secara nyata dan langsung. Salah satu contohnya adalah fenomena ikhtilat dunia
maya dan elektronik. Katakanlah facebook, twitter, ym, telpon dan sms.
semua itu adalah media yang jika tidak dipergunakan secara bijak akan
mengakibatkan kemudharatan. Lebih dari ikhtilat, bahkan bisa zina atau kemaksiatan yang lain.
Kenapa ikhtilat itu tidak dibolehkan ????
Kita tahu bahwa Allah SWT menciptakan
laki-laki dalam keadaan punya kecenderungan yang kuat terhadap wanita.
Demikian pula sebaliknya, wanita punya kecenderungan kepada lelaki. Bila
terjadi ikhtilat tentunya akan menimbulkan dampak yang negatif
dan mengantarkan kepada kejelekan. Karena, jiwa cenderung mengajak
kepada kejelekan dan hawa nafsu itu dapat membutakan dan membuat tuli.
Sementara setan mengajak kepada perbuatan keji dan mungkar.
Sungguh ironi memang kehidupan umat akhir
zaman ini. Tapi apakah kita menyesali hidup diakhir zaman ???? Jangan
!!!!! Jangan sesekali menyesali kesempatan hidup yang telah Allah
berikan kepada kita. Kita wajib mensyukurinya. Meskipun terkadang hidup
ini sulit, tetapi Allah selalu memberikan jalan. Kita ingat bahwa
disetiap kesulitan itu pasti ada kemudahan. Bahkan dikatakan oleh Allah
dua kali dalam (QS. 94:5-6).
Terlepas dari ironi tersebut. Fenomena
ini sangat luar biasa dampaknya. ADKpun merasakan hal ini. Kita sadari
bersama bahwa manusia memiliki bakat baik dan bakat buruk (Fuzuroha wa taqwaha). Ada kalanya manusiapun mengalami masa dimana dia sedang futur (turun
kondisi keimanannya). Dan ketika itu adalah kesempatan setan untuk
masuk. Saya tidak ingin memungkiri bahwa memang, saya pernah mengalami
hal yang seperti itu. Dikala kondisi sedang turun setan akan lebih mudah
untuk menhasut dan menjatuhkan kita.
Lalu bagaiamana cara mengatasi dan meminimalisirnya ????
Jika dikalangan jamaah tarbiyah sering
kali kita dengar kata-kata “kita tidak mencetak kader yang steril, tapi
yang mempunyai imunitas tinggi”. Begitulah kira-kira kata yang sering
saya dengar. Bukan mencari-cari alasan tapi sangat relevan dengan
kondisi saat ini. untuk itulah dikala proteksi hati kita lemah dan tipis
maka kita kuatkan dan tebalkan. Kemudian kenapa hati ??? karena dalam
konteks ikhtilat yang rawan adalah hati. Hati adalah hijab yang paling utama.
Salah satu solusi yang ditawarkan oleh islam untuk memperkuat imunitas kita adalah dengan Tarbiyah Dzatiyah. Tarbiyah dzatiyah adalah
sejumlah pembinaan yang dilakukan oleh seorang muslim/ah kepada dirinya
sendiri. Sarananya banyak mulai dari muhasabah, taubat dari dosa,
mengoptimalkan ibadah wajib dan menyempurakannya dengan ibadah sunah.
Kemudian bisa dengan memperluas ilmu, bermujahidah hingga terlibat dalam
aktifitas dakwah. Wabilkhusus untuk masalah ini bisa ditingkatkan
amalan-amalan iman. Seperti yang dikatakan oleh Allah swt bahwa sholat
bisa menjaga dari perbuatan keji dan mungkar (QS.29:45). Kemudian juga
dengan melaksanakan shaum, supaya menahan nafsu syahwat (HR.Muslim).
Tentunya juga dengan dzikrulloh untuk senantiasa mengingat Allah SWT
supaya kita diberikan rahmat dan juga ampunanNya (QS.2:152).
Tarbiyah Dzatiyah memang sarana
yang paling efektif dalam memproteksi hati dan keimanan kita. Dan bisa
juga sebagai media menguatan ketika sedang rapuh. Sekali lagi kita
sadari bersama bahwa ini adalah akhir zaman. Ketika tanda-tanda yang
Rasul katakana tentang kehidupan akhir zaman sudah mulai tampak
satupersatu. Maka sebagai seorang yang beriman, marilah kita kuatkan
diri dan hati kita untuk senantiasa menghadapi cobaan diakhir zaman ini.
Yang paling dikhawatirkan adalah fitnah akhir zaman. Semoga kita
termasuk orang-rang yang beruntung sebagaimana dikatakan Allah
(QS.103:1-3) dan rasul pada hadis yang diriwayatkan oleh imam muslim
tentang orang-orang asing.
“Sungguh diri ini tak ubahnya hanya
seorang yang ditutupi aibnya oleh Allah swt. Dan jika dosa-dosa diri ini
dimanisfastikan dengan bau, tentunya tidak ada seorangpun orang yang
ingin mendekati karena begitu baunya diri ini. tidak ada keraguan
tentang hal ini. Tentang kewajiban seorang muslim memperbaiki diri dan
menyeru kepada kebaikan juga mecegah kepada kemungkaran. Semata-mata ini
dilakukan untuk mengharap ridho Allah swt untuk menjadi orang-orang
yang beruntung dan umat terbaik. Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami…….”
Allahu a’lam bishshawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar