Selasa, 08 Januari 2013

Anak Jalanan Masih Anak Inonesia Juga


Tanggal 29 agustus kemarin diperingati sebagai Hari Anak Nasional. Acara resminya diadakan di Teater Keong Emas TMII, dengan menghadirkan Presiden SBY sebagai tamu kehormatan. Ada sesuatu yang menjadi perahatian publik saat sambutan pak presiden. Pak presiden menegur anak yang tertidur saat beliau memberikan sambutannya. Saya sempat berpikir “apakah pak presiden belum pernah jadi anak-anak ??? hehehe”.  Jelas saja dengan penegerun tersebut pak presiden bertentangan dengan tema yang diusung yaitu ‘bersatu mewujudkan Indonesia ramah anak’. Meskipun tidak ada maksud dari pak presiden dan cenderung spontan,  tindakan pak presiden sudah termasuk kekerasan verbal yang bisa melukai hati anak.

Terlepas dari itu, memang tanggal 29 agustus kemarin adalah hajatannya anak-anak Indonesia. Namun apakah sudah semua anak Indonesia bisa merasakannya ??? atau mereka malah tidak tahu kalau kemarin tanggal 29 agustus itu adalah hari anak nasional ???

Dari data yang didapat bahwa sejarah dicetuskannya hari anak adalah keprihatinan dari bangsa-bangsa didunia akan nasib anak-anak. Anak-anak menjadi sangat penting karena mereka adalah generasi penerus dari setiap bangsa yang ada didunia. Namun terkadang keadaan memaksa anak untuk bisa merasakan sesuatu yang belum pantas dirasakan oleh anak pada usianya. Kejadian seperti perang, perdagangan manusia, penelantaran anak dan keadaan ekonomi yang memaksa anak untuk bekerja.

Setiap bangsa didunia ini mempunyai hari khusus anak untuk memberikan perhatian terhadap anak. Begitupun di Negara kita, Indonesia. Namun apakah itu dijalankan secara nyata oleh pemerintah kita ??? Atau hanya bersifat ceremonial belaka ???

Untuk beberapa orang mungkin jawabannya bersifat preventif. Tetapi kita masih bisa melihat banyaknya anak-anak yang terlantar dan membutuhkan kasih sayang lebih. Salah satu contohnya adalah semakin bertambahnya anak anak jalanan. Anak jalanan ini bisa kita temui disetiap pemberhetian lampu merah, kolong jembatan, terminal dan stasiun. Mereka berpenampilan serba mengkhawatirkan. Mereka mengamen, berjualan asongan, dan menjadi pengemis meminta-minta. Melihat fenomena seperti ini, dalam hati timbul pertanyaan “Kemana para orang tua mereka ???”. “Apa mereka tidak sekolah ???”. “Dimana peran serta pemerintah ???”. “Kenapa polisi hanya membiarkan mereka dan cenderung acuh ???

Beberapa hari kemarin, saat melewati stasiun kiaracondong Bandung. Ada anak kecil yang kurus dan pakaian lusuh masuk kedalam angkot dan mengamen. Dia menyanyiakan lagu yang kira-kira seperti ini bunyinya “aku anak Indonesia, sehat dan kuat”. Potongan lagu tersebut adalah lagu soundtrack dari sebuah iklan produk vitamin C yang dinyanyikan oleh Joshua sekitar 10 tahun yang lalu. Miris memang, anak yang mengaku anak Indonesia mengatakan dia sehat dan kuat. Namun dari penampilannya sangat meragukan, jauh dari kata-kata tersebut. Apakah itu sindiran ??? atau memang mereka tidak bisa menyanyikan lagu lain ?? Tapi kalau tidak bisa lagu lain ?? sepertinya tidak. Kemungkinan terbesar adalah mereka ingin menyindir pemerintah dan ingin mendapatkan perhatian dari masyarakat.

Maklum memang mereka seperti itu. Kurangnya perhatian dari orang tua, bahkan mungkin orang tuanya tidak perduli. Kemudian tindak kekerasan (verbal, psikis dan fisik) yang mungkin mereka dapatkan. Merubah psikologis mereka menjadi seorang peminta minta. Mereka menjadi tidak ingin sekolah, dengan beranggapan bahwa dengan sekolah mereka tidak akan mendapatkan uang. Juga dengan adanya lingkungan yang tidak mendukung untuk mereka berkembang.

Untuk itulah perlu adanya sinergitas antara masyrakat dan pemerintah guna mengatasi permasalahan anak jalanan ini. Masyrakat hendaknya tidak acuh dengan keberadaan mereka. Masyrakat melalui ormas-ormasnya bisa menjadi sarana perlindungan para anak jalanan. Masyrakat bisa menegur para pengkordinir anak jalanan, dan mengingatkan pentingnya perkembangan pertumbuhan anak jalan.

Juga peran serta pemerintah yang harus ditingkatkan. Pemerintah seharusnya bisa lebih peka dengan fenomena anak jalanan ini dikota-kota besar. Perlu adanya sosialisasi langsung ke lapangan dan berkelanjutan. Sehingga anak jalanan mendapatkan perhatian dari pemerintah. Juga menindak tegas para pengkordinir anak jalanan ini. Jangan sampai pemerintah hanya bermain pada saar razia saja. Itu tidak akan berpengaruh apa-apa. Malah akan menjadi stigma negative dari mereka terhadap pemerintah.

Kalau bisa peringatan Hari Anak Nasional tidak hanya ditempat-tempat nyaman. Langsung terjun kelapangan tempat para anak jalanan berkumpul tentu akan lebih bisa membuka mata. Terbuka mata bahwa masih banyak anak di negera kita yang memerlukan perhatian. Pernah membayangkan, bagaimana kalau Pak Presiden datang langsung kepada mereka. Kira-kira perasaan mereka bagaiamana ???? Tentu mereka akan merasa senang. Karena mau bagaimanapun, mereka anak jalanan masih anak Inonesia juga.

Jakariya Nugraha
Aktifis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar