Minggu, 01 April 2012

Bagaikan Menghela Nafas



Manusia adalah mahluk hidup yang membutuhkan udara sebagai bahan bakar terpentingnya. Normalnya manusia tanpa udara tidak akan kuat bertahan hidup dalam hitungan menit ke detik saja. Tentunya udara yang masuk adalah udara yang bagus dan bersih sehingga menjadikan manusianya menjadi sehat. Udara masuk kedalam tubuh manusia melalui indra penciuman yang biasa kita sebut dengan hidup.

Udara dihirup oleh hidung disaring dirongga-rongga dihidup dan masuk kedalam paru-paru. Didalam paru-paru udara diolah yang kemudian digunakan sebagai bahan bakar untuk memompa jantung mengalirkan darah keseluruh tubuh. Siklus ini terus berjalan secara continue sampai batas tertentu yaitu kala Allah swt menginjinkan Malaikat Izrail mencabut nyawa kita.

Proses memasukan udara kedalam tubuh manusia itu disebut dengan bernafas. Karena saking pentingnya akan bernafas ini, manusia setiap waktu pasti menghelakan nafas untuk memasukan udara kedalam tubuhnya. Dimanapun, kapanpun dan saat keadaan apapun.

Begitupun dengan proses belajar. Belajar adalah suatu keniscayaan bagi manusia. Tidak ada satupun seorang manusia yang tidak pernah belajar. Sedari lahir, manusia sudah mulai belajar. Yaitu saat belajar berbicara dengang menangis terbelih dahulu, belajar makan dengan minum ASI dulu dan juga belajar berjalan dengan merangkak terlebih dahulu.
Pada hakikatnya belajar bisa dilakukan dimanapun, kapanpun dan saat keadaan apapun. Tetapi paradigma yang berkembang dimasyarakat kita akan belajar sangatlah jauh dari hakikat belajar itu sendiri. Masyarakat kita menganggap bahwa belajar itu hanya disekolah saja, sehingga pada saat tidak masuk sekolah atau sudah lulus sekolah ya sudah tidak belajar lagi.

Fenomena seperti ini menjadikan bangsa kita menjadi malas, apalagi ditambah dengan kekayaan alam yang kita miliki. Hidup dalam kenyaman di iklim tropis yang sejuk dengan pohon-pohon yang rindang, tanah yang subur dan minyak yang berlimpah.

Juga diperparah oleh anekdot yang ada dimasyarakat, terutama dipedasaan “ngan saukur bisa maca jeung ngitung ge geus cukup” (“sekedar bisa membaca dan berhitung juga sudah cukup”). Membaca dan berhitung disini dimaksudkan pada makna yang sederhana, misal membaca buku dan menghitung hitungan saja. Bukan secara luas, seperti membaca keadaan dan memperkirakan sesuatu.

Jadi tidak heran kalau sekarang bangsa kita berada dalam kemiskinan ditengah-tengahn kekayaan alam yang melimpah disekitar kita. Kita malas, tidak mengolahnya menjadi sesuatu yang lebih berdaya guna dan menambah daya jual.
Jika ada yang berpendapat “sekarang kita sudah mulai mengolah sumber daya kita”. Ya, memang…… Tapi mereka bukanlah dari kalangan kita. Mereka orang luar yang ingin mengeruk kekayaan kita. Coba kita tengok diderah yang kaya, apakah masyrakat disekitarnya menjadi kaya juga ??????????????????? Tidak, malah mereka berada hampir pada garis kemiskinan. Kemiskinan ini yang kemudian akan membawa bangsa kita kepada pintu gerbangan perasalahan yang konpleks. Seperti daerah penghasil emas di papua dengan PT Freeport sebagai penambangnya. Apakah masyarakat papua menjadi kaya ?????????? Tidak, malah sekarang timbul konflik antara masyarakat, pemerintah dan perusahaan. Kekayaannya diangkut ke luar, sebagian lagi masuk kedalam kantong-kantong para pejabat daerah, sedangakan masyarakat ??????? Masyarakat hanya bisa meratapi nasibnya saja.

Itu adalah satu dari sekian contoh output dari kemalasan belajar dan hidup pada zona nyaman. Tetapi yang harus digaris bawahi adalah belajar itu bagaikan menghela nafas, bisa dimanapun, kapanpun dan saat keadaan apapun. Tidak terbatas ruang dan waktu. Dan jika kita seorang muslim maka sudah menjadi kewajiban kita untuk selalu belajar.

Yuk, sama-sama kita belajar dimanapun, kapanpun dan saat keadaan apapun. Belajar untuk membangun agama, bangsa dan Negara kita……………………….

Bandung, 25 Febuari 2012
10.38 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar