Kamis, 12 September 2013

Jadi Juara


Ayo kita lihat, siapa nanti yang akan keluar sebagai juara. Sesuatu tidak dinilai dari awala, tapi hasil itu diakhir. Ya, itulah kata-kata yang aku pegang untuk mengarungi derasnya arus kehidupan yang menerpa. Aku adalah seorang yang sempat mengalami beberapa hal yang seperti itu. Dan kinipun, aku rasa adalah momentum yang tepat untuk mewujudkannya kembali.

Hmmmmm...... dulu waktu sekolah dasar, aku tidak perhitungkan oleh yanglainnn  dan para guruku. Itu sangat menyesakanku. Aku bersama logika kecilku mencoba untuk mendobra semua itu. Dan akhirnya aku bisa memaksakan seorang yang sudah mendominasi kelas menjadi tunduk padaku atas prestasiku diakhir yang diatasnya.

Juga saat-saat kenakalan dan kegaulauan menraja rela direlung-relung sendiku. Aku sudah bosan dengan perkataan nasihat yang mungkin bijak. Tapi sungguh menerjang kerang peraasaan ku. Aku sudah bosan dengan mendengarkan perkataan perbandingan. “ yang lain mah begini, yang lain mah begitu, yang lain bisa begin, bisa begitu blablablabla dll”. Dan ada suatu dorongan untuk aku menunjukan siapa aku sebenarnya.

Aku berusaha dengan keras untuk menunjukan bahwa ini aku, aku yang tidak hanya handal diluar aadenik tapi juga diakademik. Hingga akhirnya alhamdulilah aku bisa mewujudkannya menjadi sesuatu yang menurutku tidak semua orang bisa. Yaitu menyumbangkan 7 tropi keskolah dan mendapatkan tropi dari sekolah atas prestasi akademikku. Juga tidak hanya itu saja kawan, aku akharinya bisa menembus sesuatu yang aku inginkan. Aku bisa menembus pmdk dan kokohnya dinding snmptn yang banyak diincar oleh ratusan ribu anak dinegeri ini.

Dan kini aku akan mencoba lagi mengulang masa keemasanku dulu. Kini diusiaku yang dimana aku harus menjadi dewasa. Akau menyadari bahwa tantangannya akan semakin berta berbeda dengan sebelum-sebelumnya . namun aku harus mencoba membuktikan bahwa aku bisa. BISA MENJADI JUARA
SEKARANG LIHAT, INILAH AKU SEORANG JUARA AKU YAKIN AKU BISA. ALLAH BERSAMA PRASANGKA HAMBANYA.

Jauh Berbeda

Semua hal berjalan dengan baik, hingga suatu itu datang kealamku. Tiada yang menyangka sebeumnya. Bahkan jiwa yang penuh terisi dengan impianpun tak pernah merasakan kehadirannya. Mengendap-endap, memasuki peralahan pintu kesunyian lara yang menanti sang mentari datang lagi. Jauh, bila kalian tahu sudah berapa lama aku menanti ????? hemmmmmmm.... ada akalanya aku berhenti untuk menceritakan hal ini. Hanya sesaat saja, untuk menenangkan sejenak kejenuhanku dalam menunggu. Malah, jika aku terus saja bercerita mencurahkan segala isi hati ini. Aku jadi semakin terlalrut akan kesedihan yang mendalam kawan. So, biarlah aku tidak mengunkitnya kali ini.
            Baik, untuk itulah aku mecoba sesuatu yang baru. Aku akan bercerita tentang apa yang baru saja aku alami kawan. Sesatu yang melambungkan angan jauh keatas langit berwarna biru. Warnanya yang cerah seperti mengisyaratkan bahwa memang ini adalah sesautu yang luarbiasa. Berbeda sekali dengan kisahku yang kemarin, ketika harus terpaku meratapi kepingan mozaik yang belum datang juga kepingan lainnya. Sehingga apadaya aku belum bisa menyusunya menjadi sebuah potret cerita yang aku inginkan. Hmmmmm..... “cukup, cukup. Kenapa aku malah kembali lagi kesana ?????”. Nevermind..... kita lanjutkan kesesi berikutnya.
            Awalnya hanya sepintas saja, kala aku mengejar waktu yang aku habiskan dari kemarin hingga larut malam sekali. Walhasil, jam biologisku tak bisa kompromi dengan kegiatan yang harus aku jalani di hari ini. Aku terlambat bangun, aku harus sesegera mungkin mengejar kereta. Telat saja satu menit, aku harus merelakan anganku mendapatkan bonus tambahan sirna sudah. Langkah kakiku dengan cepat berlari-lari kecil sembari beberapa kali mengangkat tangan kanan melihat jam tangan. Lima menit lagi. Tiga menit lagi. Dan masalah semakin gawat ketika aku melihat waktu tinggal satu menit lagi. Mataku menatap tajam menlusur kerumunan orang-orang yang sama-sama mengejar waktunya. Meneliti kira-kira aku harus melewati jalan yang mana sehingga aku lebih cepat sampai ke stasiun.
Dan ternyata usahaku tak sia-sia kawan. Selang waktu sedikit lagi pintu kereta akan tertutup aku dengan gesitnya menyelinap masuk ke pintu itu. Aku menahan nafas dalam-dalam dengan harapan badanku menjadi lebih kempes seperti pada film-film kartun. Jhiahahahha konyol sekali, aku langsung terhempas kedalama kerumunan orang yang sama sepertiku. Dan seperti biasanya aku kembali harus meminta-maaf kepada orang yang aku jadikan sandaran ketika menghempaskan badaku sebelum pintu kereta tertutup, hehehehe.
Namun kali ini aku terkejut bukan main kawan. Sekali lagi aku benar benar terkejut bukan main. Seakan-akan jantungku copot dan terhenti. Sesaat aku terpana memandangi siapa orang kali ini menjadi pendengar kata-kata maafku yang aku ucapkan dengan dialek yang khas. Bahasa setempat dengan dialek yang berbeda dengan orang lain kebanyakan. Pengucapan kata-kataku mendayu – dayu dan berirama. Setiap penekanannya enak didengar oleh indra dengar orang mana, menurutku, hehehehehe. Dan bila aku berada di negaraku, pasti semua orang akan tahu darimana asalku. Aku bisa menjaminnya kawan pasti semua orang akan tahu, kalau aku ini adalah urang sunda dengan caraku berbicara. Namun ini bukan negeriku kawan. Aku berada dinegeri dimana sangat jarang sekali aku mendengar senandung pengingat yang paling merdu di dunia. Bahkan mungkin tidak ada, aku tiadk bisa mendengarnya.seakrang aku berada dinegeri yang orang-orangnya sangat menjungjung tinggi kedisiplinan dan gila kerja. Saking gilanya, mereka saling berlomba-lomba untuk pulang paling akhir dari tempatnya bekerja. Dan jika mereka melakukan kesalahan, mereka akan malu sekali. Sangat memalukan untuk mereka hingga solusi yang ditempuh untuk mengatasi rasa malu itu adalah dengan hal yang cukup sinting buatku. Mereka menukarkan rasa malu dengan apa yang mereka bilang sebagai kehormatan. Kehormatannya adalah mengakhiri hidup dengan tangannya sendiri. Heummm..... sungguh... sesuatu sekali kawan.
To be continue......

Selasa, 03 September 2013

yang manis

Yang manis,
bukan hanya sekedar sesuatu yang dapat kau rasa dengan inderamu saja.
lebih dari itu kawan, semua orang mencari yang manis ini.
bila kita melangkahkan kaki lebar-lebar nan cepat kali, aku tak yakin dia akan ada disekitarmu.
bayangkan saja.......

Yang manis,
bukan hanya pandangan indah yang dari sudut mata melintir mu,
dia isa saja menerkam dari jauh dengan cakarnya yang tajam.
hhhmmmmmm jadi kembali aku berpikir.

Yang manis
Yang manis

Ada Getir Dibalik Senyumanmu


Ada getir dibalik senyumanmu
Raut muka yang tidak aku inginkan, kini menyergap pandangku
Seketika......
Aku terkejut, membayangkan apa yang ada didalam lubuk hatimu ???
Aku takut sekali, jika kau jadikan aku sebgai santapan makan siang mu
Aku ingin berlari
Membuka selangkahan ku lebar-lebar dan mengerakannya dengan cepat
Namun sayang jeritan manismu menghentikannya
Menghentikan segala upayaku
menghilang dari kegetiran hidupmu
yang tersembunyi dibalik senyummu
yang manis......