Semua
hal berjalan dengan baik, hingga suatu itu datang kealamku. Tiada yang
menyangka sebeumnya. Bahkan jiwa yang penuh terisi dengan impianpun tak pernah
merasakan kehadirannya. Mengendap-endap, memasuki peralahan pintu kesunyian
lara yang menanti sang mentari datang lagi. Jauh, bila kalian tahu sudah berapa
lama aku menanti ????? hemmmmmmm.... ada akalanya aku berhenti untuk
menceritakan hal ini. Hanya sesaat saja, untuk menenangkan sejenak kejenuhanku
dalam menunggu. Malah, jika aku terus saja bercerita mencurahkan segala isi hati
ini. Aku jadi semakin terlalrut akan kesedihan yang mendalam kawan. So, biarlah
aku tidak mengunkitnya kali ini.
Baik, untuk itulah aku mecoba
sesuatu yang baru. Aku akan bercerita tentang apa yang baru saja aku alami
kawan. Sesatu yang melambungkan angan jauh keatas langit berwarna biru.
Warnanya yang cerah seperti mengisyaratkan bahwa memang ini adalah sesautu yang
luarbiasa. Berbeda sekali dengan kisahku yang kemarin, ketika harus terpaku
meratapi kepingan mozaik yang belum datang juga kepingan lainnya. Sehingga
apadaya aku belum bisa menyusunya menjadi sebuah potret cerita yang aku
inginkan. Hmmmmm..... “cukup, cukup. Kenapa aku malah kembali lagi kesana
?????”. Nevermind..... kita lanjutkan kesesi berikutnya.
Awalnya hanya sepintas saja, kala
aku mengejar waktu yang aku habiskan dari kemarin hingga larut malam sekali.
Walhasil, jam biologisku tak bisa kompromi dengan kegiatan yang harus aku
jalani di hari ini. Aku terlambat bangun, aku harus sesegera mungkin mengejar
kereta. Telat saja satu menit, aku harus merelakan anganku mendapatkan bonus
tambahan sirna sudah. Langkah kakiku dengan cepat berlari-lari kecil sembari
beberapa kali mengangkat tangan kanan melihat jam tangan. Lima menit lagi. Tiga
menit lagi. Dan masalah semakin gawat ketika aku melihat waktu tinggal satu
menit lagi. Mataku menatap tajam menlusur kerumunan orang-orang yang sama-sama
mengejar waktunya. Meneliti kira-kira aku harus melewati jalan yang mana
sehingga aku lebih cepat sampai ke stasiun.
Dan
ternyata usahaku tak sia-sia kawan. Selang waktu sedikit lagi pintu kereta akan
tertutup aku dengan gesitnya menyelinap masuk ke pintu itu. Aku menahan nafas
dalam-dalam dengan harapan badanku menjadi lebih kempes seperti pada film-film
kartun. Jhiahahahha konyol sekali, aku langsung terhempas kedalama kerumunan
orang yang sama sepertiku. Dan seperti biasanya aku kembali harus meminta-maaf
kepada orang yang aku jadikan sandaran ketika menghempaskan badaku sebelum
pintu kereta tertutup, hehehehe.
Namun
kali ini aku terkejut bukan main kawan. Sekali lagi aku benar benar terkejut
bukan main. Seakan-akan jantungku copot dan terhenti. Sesaat aku terpana
memandangi siapa orang kali ini menjadi pendengar kata-kata maafku yang aku
ucapkan dengan dialek yang khas. Bahasa setempat dengan dialek yang berbeda
dengan orang lain kebanyakan. Pengucapan kata-kataku mendayu – dayu dan
berirama. Setiap penekanannya enak didengar oleh indra dengar orang mana,
menurutku, hehehehehe. Dan bila aku berada di negaraku, pasti semua orang akan
tahu darimana asalku. Aku bisa menjaminnya kawan pasti semua orang akan tahu,
kalau aku ini adalah urang sunda dengan
caraku berbicara. Namun ini bukan negeriku kawan. Aku berada dinegeri dimana
sangat jarang sekali aku mendengar senandung pengingat yang paling merdu di
dunia. Bahkan mungkin tidak ada, aku tiadk bisa mendengarnya.seakrang aku
berada dinegeri yang orang-orangnya sangat menjungjung tinggi kedisiplinan dan
gila kerja. Saking gilanya, mereka saling berlomba-lomba untuk pulang paling
akhir dari tempatnya bekerja. Dan jika mereka melakukan kesalahan, mereka akan
malu sekali. Sangat memalukan untuk mereka hingga solusi yang ditempuh untuk
mengatasi rasa malu itu adalah dengan hal yang cukup sinting buatku. Mereka
menukarkan rasa malu dengan apa yang mereka bilang sebagai kehormatan.
Kehormatannya adalah mengakhiri hidup dengan tangannya sendiri. Heummm.....
sungguh... sesuatu sekali kawan.
To
be continue......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar