Kamis, 12 September 2013

Jauh Berbeda

Semua hal berjalan dengan baik, hingga suatu itu datang kealamku. Tiada yang menyangka sebeumnya. Bahkan jiwa yang penuh terisi dengan impianpun tak pernah merasakan kehadirannya. Mengendap-endap, memasuki peralahan pintu kesunyian lara yang menanti sang mentari datang lagi. Jauh, bila kalian tahu sudah berapa lama aku menanti ????? hemmmmmmm.... ada akalanya aku berhenti untuk menceritakan hal ini. Hanya sesaat saja, untuk menenangkan sejenak kejenuhanku dalam menunggu. Malah, jika aku terus saja bercerita mencurahkan segala isi hati ini. Aku jadi semakin terlalrut akan kesedihan yang mendalam kawan. So, biarlah aku tidak mengunkitnya kali ini.
            Baik, untuk itulah aku mecoba sesuatu yang baru. Aku akan bercerita tentang apa yang baru saja aku alami kawan. Sesatu yang melambungkan angan jauh keatas langit berwarna biru. Warnanya yang cerah seperti mengisyaratkan bahwa memang ini adalah sesautu yang luarbiasa. Berbeda sekali dengan kisahku yang kemarin, ketika harus terpaku meratapi kepingan mozaik yang belum datang juga kepingan lainnya. Sehingga apadaya aku belum bisa menyusunya menjadi sebuah potret cerita yang aku inginkan. Hmmmmm..... “cukup, cukup. Kenapa aku malah kembali lagi kesana ?????”. Nevermind..... kita lanjutkan kesesi berikutnya.
            Awalnya hanya sepintas saja, kala aku mengejar waktu yang aku habiskan dari kemarin hingga larut malam sekali. Walhasil, jam biologisku tak bisa kompromi dengan kegiatan yang harus aku jalani di hari ini. Aku terlambat bangun, aku harus sesegera mungkin mengejar kereta. Telat saja satu menit, aku harus merelakan anganku mendapatkan bonus tambahan sirna sudah. Langkah kakiku dengan cepat berlari-lari kecil sembari beberapa kali mengangkat tangan kanan melihat jam tangan. Lima menit lagi. Tiga menit lagi. Dan masalah semakin gawat ketika aku melihat waktu tinggal satu menit lagi. Mataku menatap tajam menlusur kerumunan orang-orang yang sama-sama mengejar waktunya. Meneliti kira-kira aku harus melewati jalan yang mana sehingga aku lebih cepat sampai ke stasiun.
Dan ternyata usahaku tak sia-sia kawan. Selang waktu sedikit lagi pintu kereta akan tertutup aku dengan gesitnya menyelinap masuk ke pintu itu. Aku menahan nafas dalam-dalam dengan harapan badanku menjadi lebih kempes seperti pada film-film kartun. Jhiahahahha konyol sekali, aku langsung terhempas kedalama kerumunan orang yang sama sepertiku. Dan seperti biasanya aku kembali harus meminta-maaf kepada orang yang aku jadikan sandaran ketika menghempaskan badaku sebelum pintu kereta tertutup, hehehehe.
Namun kali ini aku terkejut bukan main kawan. Sekali lagi aku benar benar terkejut bukan main. Seakan-akan jantungku copot dan terhenti. Sesaat aku terpana memandangi siapa orang kali ini menjadi pendengar kata-kata maafku yang aku ucapkan dengan dialek yang khas. Bahasa setempat dengan dialek yang berbeda dengan orang lain kebanyakan. Pengucapan kata-kataku mendayu – dayu dan berirama. Setiap penekanannya enak didengar oleh indra dengar orang mana, menurutku, hehehehehe. Dan bila aku berada di negaraku, pasti semua orang akan tahu darimana asalku. Aku bisa menjaminnya kawan pasti semua orang akan tahu, kalau aku ini adalah urang sunda dengan caraku berbicara. Namun ini bukan negeriku kawan. Aku berada dinegeri dimana sangat jarang sekali aku mendengar senandung pengingat yang paling merdu di dunia. Bahkan mungkin tidak ada, aku tiadk bisa mendengarnya.seakrang aku berada dinegeri yang orang-orangnya sangat menjungjung tinggi kedisiplinan dan gila kerja. Saking gilanya, mereka saling berlomba-lomba untuk pulang paling akhir dari tempatnya bekerja. Dan jika mereka melakukan kesalahan, mereka akan malu sekali. Sangat memalukan untuk mereka hingga solusi yang ditempuh untuk mengatasi rasa malu itu adalah dengan hal yang cukup sinting buatku. Mereka menukarkan rasa malu dengan apa yang mereka bilang sebagai kehormatan. Kehormatannya adalah mengakhiri hidup dengan tangannya sendiri. Heummm..... sungguh... sesuatu sekali kawan.
To be continue......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar