Selasa, 08 Januari 2013

Matapun Tak Kuasa Melihat

Sekarang semua terasa hampa
Aku seperti layaknya pendosa yang takpatut untuk diampuni
Sekitar ku melihat dengat sinisnya,
Semut dilantai dan nyamuk-nyamuk yang berterbanganpun memaki
Sedikit demi sedikit memoriku berputar mencari suatu masa dikaya jaya
Aduhai semuanya terasa besar
Dalam perjalanan pulangpun semuanya terasa tersenyum
Bunyi klakson tidak diperdulikan, hanya saja gupaian tangan melambai-lambai
Sayap burung yang patahpun bisa kembali lagi mengepak
Itu hanya segelintir saja
Ketika matahari sudah mau beranjak pergi
Dilereng pegunungan yang jauh sekali jaraknya
Masa itu ada janji yang harus kutepati
Tapi sungguh jauh, harus kah berlari ???
Namun sayang matahari keburu pulang, tak sampai
Dag dig dug, suara jantung selarang dengan suara angin malam menghempas daun daun sekitar lereng
Gemerisik air didasar jurangpun terdengar dengan jelas, namun hanya sepintas saja sebelum jiwa ini
Dihempaskan
Dijatuhkan oleh bayang sendiri dari mata sang bulan
Dia menari nari di atas gempulan tanah yang keras dekat rerumputan hijau tak jelas
Aku takut, takut menapaki kaki.
Ironi dalam hati memang, seakan batu dipuncak lereng jatuh
Menggelinding cepat menerjang pohon-pohon bambu  itu
Ternyata hanya sesaat masa sudah dekat
Ketakutan hilang berganti kegalauan
Sepontong memori itupun kemudian lenyap ditelan kegaualaun yang terasa
Padahal terpisah jarak dan waktu
Berbeda sangat berbeda sekali
Kemudian kudekati cermin besar yang antic disudut kamar
Sinyal sinyal neuron bekerja hingga telunjukpun dengan gagahnya terangkat
Tapi anehnya sang indera  tak ingin melihatnya
Hanya menutup, ingin mengintippun tak bisa
Kenapa ?? apa yang terjadi ????
Masih berkutat dengan sang indera melihat, hingga terdengar
Bibirku berucap sendiri
Dia tak kuasa melihat seorang pendosa sepertimu…………………..
Dan cerminpun pecah.
Dzar
Pameungpeuk 1 september 2012
10.09 AM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar