Selasa, 08 Januari 2013

Sejarah Singkat KMI Libaasuttaqwa

 Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (ST3) adalah salah satu perguruan tinggi negeri dibawah naungan Departemen Perindustrian RI, bertempat di kota bandung. Kampus ini memiliki kultur yang khas dan selalu berubah-ubah pada kehidupan kampusnya dari sejak dulu hingga sekarang entah itu dosen ataupun mahasiswanya. Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil atau kampus tekstil memiliki sejarah yang bagus dalam perkembangan dan syiar dakwah islamiyah diderah Bandung khususnya dengan Mesjid Libaasuttaqwa sebagai corongnya.
Pada tahun 1973 mesjid Libaasuttaqwa didirikan dari bekas gudang kapas milik Institut Teknologi Tekstil (sekarang STTT) atas desakan para mahasiswa dan civitas akademika khususnya yang waktu itu tidak memiliki tempat beribadah dan masyarakat sekitar pada umumnya. Karena yang menginisiasi hadirnya Libaasuttaqwa ini tidak hanya civitas akademika saja tetapi masyrakat sekitar juga berperan maka mesjid Libaasuttaqwa ini tidak hanya masjid kampus yang hanya diramaikan oleh civitas akademika saja tetapi Libaasuttaqwa menjadi mesjid umum dan menjadi salah satu mesjid teramai dalam syiar dan tarbiyah islamiyah pada decade awal 70 an hingga awal 90 an bersama Salman ITB dan mesjid Istiqomah di daerah jalan RAA. Wiranata Kusumaha Bandung (jalan riau).
Nama Libaasuttaqwa sendiri diambil dari penggalan ayat dalam ayat suci Al-Quran, yaitu pada surat Ar-Araf : 26
“ Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat”
Libaasuttaqwa diambil karena dapat mewakili identitas dari kampus tekstil yaitu Libaas yang artinya pakaian (tekstil). Juga dengan Libaasuutaqwa ada, ekspektasi yang tersuratkan dari para pendahulu yaitu menjadikan seluruh elemen stockholder di kampus tekstil menjadi taqwa.
Tetapi dinamika kehidupan senantiasa berputar, realitanya sekarang di awal tahun 2010-an Libaasuttaqwa meskipun masih tetap menjadi place of Syiar and Tarbiyah Islamiyah  namun sudah jauh berbeda dengan waktu dulu. Zaman yang sudah era globalisasi, perang pemikiran yang digencarakan oleh para musuh islam untuk meracuni terutama para pemuda (mahasiswa) sehingga tersenangkan oleh kehidupan duniawi dan terlupakan akan akhirat sehingga menjadikan pola kehidupan baru dikalang para pemuda (mahasiswa) yang notabenenya adalah kunci dari perkembangan dakwah kampus itu sendiri yaitu “Hedonisme”, sehingga sangat jarang para pemuda (mahasiswa) yang berminat menimba ilmu lebih dalam tentag agama Allah swt. Juga masyarakat sekitar sudah mulai membangun mesjidnya sendiri-sendiri dan lebih terkonsentrasi dengan syiarnya masing-masing.
Atas dasar itulah diperlukan suatu lembaga baru yang lebih inklusif sehingga bisa menjadi solusi atas permasalahan yang ada. Tetapi tidak hanya cukup pada itu saja, selain harus inklusif maka untuk mendukung dan mendorong keberjalanannya haruslah menjadi professional. Dengan penerapan yang professional, diharapakan masalah-masalah klasaik dalam hal manejemen keorganisasian bisa teratasi. Sehingga “Libaasuttaqwa” bisa lebih focus pada syiar dan pembinaan keislamannya.
Ide untuk membentuk dan mentrasformasikan suatu lembaga baru yang lebih professional telah ada sejak tahun 2000-an, yaitu dengan dimulainya visi 10 Tahun. Visi 10 Tahun tersebut adalah ”Menjadi Masjid Kampus Terbaik Se Bandung Raya 2010 ” Namun visi ini lebih kepada perbaikan fisik dan menempatkan posisi “Libaasuttaqwa” pada bergaining position yang mantap.
Hingga pada kepengurusan 2010 – 2011, ketika visi ini akan berakhir dilakukan evaluasi besar oleh seluruh stecholder “Libaasuttaqwa”. Dari mulai pengurus, alumni, perwakilian perguruan tinggi dan tokoh masyarakat (ustad/ustadaz). Hasil evaluasi tersebut berujung kepada dibutuhknya perubahan kelembagaan dari Dewan Kemakmuran Mesjid (DKM) menjadi Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang diyakini akan lebih membawa perubahan terhadap perkembangan dakwah kampus. Maka dibentuklah tim Formatur yang terdiri dari pengurus, alumni, perwakilan perguruan tinggi dan tokoh masyarakat. Tim formatur ini diketuai oleh saudara Handi Prayoga (TT’06) yang pada saat itu sedang menjabat sebagai Kordinator Dewan Pertimbangan Organisasi (DPO) DKM Libaasuttaqwa. Dalam keberjalannya, tim formatur ini membahas seluk beluk tentang perubahan yang akan dilakukan. Dari mulai nama, menejemen, keuangan, strategi syiar, pembinaan, keadministrasian, hingga rencana jangka panjang yang disebut rencana strategis.
Selanjutnya, hasil dari pembahasan tim formatur di presentasikan kepada seluruh pengurus Libaasuttaqwa pada saat sidang musyawarah besar anggota. Seperti sidang musyawarah pada umumnya, draft-draft hasil rancangan tim formatur tidak langsung disetujui. Keberjanalan sidangnya sangat berdinamika dan diwarnai dengan adu argument sesama anggota sidang. Namun, alhamdulilah atas izin Allah SWT sidang musyawarah besar anggota berujung pada kesepatakan bahwa DKM Libaasuttaqwa berubah menjadi LDK Keluarga Mahasiswa Islam Libaasuttaqwa. Keputusan tersebut disyahkan oleh Ketua sidang, yang padasaat itu diketuai oleh saudara Jakariya Nugraha (KT’10) pada tanggal 20 April 2011 pukul 8.02 PM WIB. Juga pada musyawarah besar tersebut telah terpilihnya saudara Ibnu Ramdhani (TT’08) sebagai Ketua Umum pertama Keluarga Mahasiswa Islam Libaasuttaqwa.
Keluarga mahasiswa islam Libaasuttaqwa yang kemudian lebih dikenal dengan KMI ini, diperkenalkan kepada masyarakat kampus pada tanggal 28 Mei 2011. Ada perubahan yang sangat mencolok dari KMI ini, yaitu pada struktur keorganisasiannya. Dari mulai tentang job desk perwakilan perguruan tinggi, status KMI yang membawahi kemasjidan (DKM), adanya dewan khusus yang mengurusi syariah, ekonomi dan syiar keilmua yang lebih komprehensif.
Terlepas dari perubahan-perubahan tersebut, Libaasuttaqwa teteplah Libaasuttaqwa. Suatu identitas tersendiri dari kampus Tekstil yang tidak akan pernah hilang. Siapa sangka yang tadinya hanya gudang kapas yang sudah tidak terpakai lagi, kini menjadi sesuatu yang luar biasa. Gudang kapas tersebut kini sudah menjadi pusat kegiatan keislaman dan pembinaan di kampus tekstil. Bahakan gudang kapas ini telah banyak melahirkan gengerasi-generasi islam baru, para intelektual muda. Tidak hanya bidang keislaman dan tekstil saja, tetapi lebih dari itu para alumni Libaasuttaqwa sudah merambah bidang-bidang seperti bisnis, teknologi, social dan politikpun tidak luput dari bidang yang digeluti.
Kini tinggalah kita semua sebagai penerus dari sejarah panjang kegiatan dakwah Libaasuttaqwa. Kini tinggal kitalah yang akan menentukan masa depan Libaasuttaqwa dan Islam. Semoga kita bisa mewujudkan cita-cita luhur Islam dengan Libaasutaqwa sebagai kendarannya.
*disampaikan kepada seluruh pengurus KMI Libaasuttaqwa, untuk memupuk serta mengelorakan kembali semangat para pengurus dalam berjuang dan mempersiapkan kepengerusan selanjutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar