Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (ST3)
adalah salah satu perguruan tinggi negeri dibawah naungan Departemen
Perindustrian RI, bertempat di kota bandung. Kampus ini memiliki kultur
yang khas dan selalu berubah-ubah pada kehidupan kampusnya dari sejak
dulu hingga sekarang entah itu dosen ataupun mahasiswanya. Sekolah
Tinggi Teknologi Tekstil atau kampus tekstil memiliki sejarah yang bagus
dalam perkembangan dan syiar dakwah islamiyah diderah Bandung khususnya
dengan Mesjid Libaasuttaqwa sebagai corongnya.
Pada tahun 1973 mesjid Libaasuttaqwa
didirikan dari bekas gudang kapas milik Institut Teknologi Tekstil
(sekarang STTT) atas desakan para mahasiswa dan civitas akademika
khususnya yang waktu itu tidak memiliki tempat beribadah dan masyarakat
sekitar pada umumnya. Karena yang menginisiasi hadirnya Libaasuttaqwa
ini tidak hanya civitas akademika saja tetapi masyrakat sekitar juga
berperan maka mesjid Libaasuttaqwa ini tidak hanya masjid kampus yang
hanya diramaikan oleh civitas akademika saja tetapi Libaasuttaqwa
menjadi mesjid umum dan menjadi salah satu mesjid teramai dalam syiar
dan tarbiyah islamiyah pada decade awal 70 an hingga awal 90 an bersama
Salman ITB dan mesjid Istiqomah di daerah jalan RAA. Wiranata Kusumaha
Bandung (jalan riau).
Nama Libaasuttaqwa sendiri diambil dari penggalan ayat dalam ayat suci Al-Quran, yaitu pada surat Ar-Araf : 26
“ Hai anak Adam, sesungguhnya
Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian
indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang
paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda
kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat”
Libaasuttaqwa diambil karena dapat mewakili identitas dari kampus tekstil yaitu Libaas yang
artinya pakaian (tekstil). Juga dengan Libaasuutaqwa ada, ekspektasi
yang tersuratkan dari para pendahulu yaitu menjadikan seluruh elemen
stockholder di kampus tekstil menjadi taqwa.
Tetapi dinamika kehidupan senantiasa
berputar, realitanya sekarang di awal tahun 2010-an Libaasuttaqwa
meskipun masih tetap menjadi place of Syiar and Tarbiyah Islamiyah namun
sudah jauh berbeda dengan waktu dulu. Zaman yang sudah era globalisasi,
perang pemikiran yang digencarakan oleh para musuh islam untuk meracuni
terutama para pemuda (mahasiswa) sehingga tersenangkan oleh kehidupan
duniawi dan terlupakan akan akhirat sehingga menjadikan pola kehidupan
baru dikalang para pemuda (mahasiswa) yang notabenenya adalah kunci dari
perkembangan dakwah kampus itu sendiri yaitu “Hedonisme”, sehingga
sangat jarang para pemuda (mahasiswa) yang berminat menimba ilmu lebih
dalam tentag agama Allah swt. Juga masyarakat sekitar sudah mulai
membangun mesjidnya sendiri-sendiri dan lebih terkonsentrasi dengan
syiarnya masing-masing.
Atas dasar itulah diperlukan suatu
lembaga baru yang lebih inklusif sehingga bisa menjadi solusi atas
permasalahan yang ada. Tetapi tidak hanya cukup pada itu saja, selain
harus inklusif maka untuk mendukung dan mendorong keberjalanannya
haruslah menjadi professional. Dengan penerapan yang professional,
diharapakan masalah-masalah klasaik dalam hal manejemen keorganisasian
bisa teratasi. Sehingga “Libaasuttaqwa” bisa lebih focus pada syiar dan
pembinaan keislamannya.
Ide untuk membentuk dan mentrasformasikan
suatu lembaga baru yang lebih professional telah ada sejak tahun
2000-an, yaitu dengan dimulainya visi 10 Tahun. Visi 10 Tahun tersebut
adalah ”Menjadi Masjid Kampus Terbaik Se Bandung Raya 2010 ” Namun visi ini lebih kepada perbaikan fisik dan menempatkan posisi “Libaasuttaqwa” pada bergaining position yang mantap.
Hingga pada kepengurusan 2010 – 2011,
ketika visi ini akan berakhir dilakukan evaluasi besar oleh seluruh
stecholder “Libaasuttaqwa”. Dari mulai pengurus, alumni, perwakilian
perguruan tinggi dan tokoh masyarakat (ustad/ustadaz). Hasil evaluasi
tersebut berujung kepada dibutuhknya perubahan kelembagaan dari Dewan
Kemakmuran Mesjid (DKM) menjadi Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang
diyakini akan lebih membawa perubahan terhadap perkembangan dakwah
kampus. Maka dibentuklah tim Formatur yang terdiri dari pengurus,
alumni, perwakilan perguruan tinggi dan tokoh masyarakat. Tim formatur
ini diketuai oleh saudara Handi Prayoga (TT’06) yang pada saat itu
sedang menjabat sebagai Kordinator Dewan Pertimbangan Organisasi (DPO)
DKM Libaasuttaqwa. Dalam keberjalannya, tim formatur ini membahas seluk
beluk tentang perubahan yang akan dilakukan. Dari mulai nama, menejemen,
keuangan, strategi syiar, pembinaan, keadministrasian, hingga rencana
jangka panjang yang disebut rencana strategis.
Selanjutnya, hasil dari pembahasan tim
formatur di presentasikan kepada seluruh pengurus Libaasuttaqwa pada
saat sidang musyawarah besar anggota. Seperti sidang musyawarah pada
umumnya, draft-draft hasil rancangan tim formatur tidak langsung
disetujui. Keberjanalan sidangnya sangat berdinamika dan diwarnai dengan
adu argument sesama anggota sidang. Namun, alhamdulilah atas izin Allah
SWT sidang musyawarah besar anggota berujung pada kesepatakan bahwa DKM
Libaasuttaqwa berubah menjadi LDK Keluarga Mahasiswa Islam
Libaasuttaqwa. Keputusan tersebut disyahkan oleh Ketua sidang, yang
padasaat itu diketuai oleh saudara Jakariya Nugraha (KT’10) pada tanggal
20 April 2011 pukul 8.02 PM WIB. Juga pada musyawarah besar tersebut
telah terpilihnya saudara Ibnu Ramdhani (TT’08) sebagai Ketua Umum
pertama Keluarga Mahasiswa Islam Libaasuttaqwa.
Keluarga mahasiswa islam Libaasuttaqwa
yang kemudian lebih dikenal dengan KMI ini, diperkenalkan kepada
masyarakat kampus pada tanggal 28 Mei 2011. Ada perubahan yang sangat
mencolok dari KMI ini, yaitu pada struktur keorganisasiannya. Dari mulai
tentang job desk perwakilan perguruan tinggi, status KMI yang membawahi
kemasjidan (DKM), adanya dewan khusus yang mengurusi syariah, ekonomi
dan syiar keilmua yang lebih komprehensif.
Terlepas dari perubahan-perubahan
tersebut, Libaasuttaqwa teteplah Libaasuttaqwa. Suatu identitas
tersendiri dari kampus Tekstil yang tidak akan pernah hilang. Siapa
sangka yang tadinya hanya gudang kapas yang sudah tidak terpakai lagi,
kini menjadi sesuatu yang luar biasa. Gudang kapas tersebut kini sudah
menjadi pusat kegiatan keislaman dan pembinaan di kampus tekstil.
Bahakan gudang kapas ini telah banyak melahirkan gengerasi-generasi
islam baru, para intelektual muda. Tidak hanya bidang keislaman dan
tekstil saja, tetapi lebih dari itu para alumni Libaasuttaqwa sudah
merambah bidang-bidang seperti bisnis, teknologi, social dan politikpun
tidak luput dari bidang yang digeluti.
Kini tinggalah kita semua sebagai penerus
dari sejarah panjang kegiatan dakwah Libaasuttaqwa. Kini tinggal
kitalah yang akan menentukan masa depan Libaasuttaqwa dan Islam. Semoga
kita bisa mewujudkan cita-cita luhur Islam dengan Libaasutaqwa sebagai
kendarannya.
*disampaikan kepada seluruh pengurus
KMI Libaasuttaqwa, untuk memupuk serta mengelorakan kembali semangat
para pengurus dalam berjuang dan mempersiapkan kepengerusan selanjutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar