Selasa, 08 Januari 2013

Pelajaran Hidup dari Ikan Salmon

Oleh : Jakariya Nugraha

Sekitar dua minggu yang lalu, ketika sedang berdiskusi menetukan tema untuk acara di kampus. Ada salah seorang teman yang mengusulkan tema nya berhubungan dengan ikan salmon. Pertama kali mendengar, rasanya aneh kalau tema acaranya berhubungan dengan ikan. Apalagi ikan salmon. “Asa teu nyambung” pikir saya. Tetapi ternyata ada filosofi hidup yang bisa diambil dari ikan salmon. Terutama dengan siklus hidup ikan yang terkenal bergizi dan mahal ini.

Meskipun pada akhirnya, ide tentang salmon itu tidak jadi tema acaranya. Tetapi saya tertarik untuk sekedar mencari tahu tentang ikan salmon ini. Apalagi setelah membaca status FB salah satu teman, kurang lebih seperti ini ” filosofi hidup manusia ibarat ikan, ketika bertinggal di air yang mengalir nan deras, pertumbuhannya lebih cepat. So, ciptakan kondisi yang menuntut kita untuk selalu bekerja” (Yoga Yulianto).

Ikan salmon sebenarnya adalah ikan biasa saja. Tetapi siklus hidup yang mereka jalani menjadikan ikan ini menjadi luarbiasa. Bayangkan saja ikan ini lahir di air tawar dengan kondisi yang yatim piatu. Tidak ada induk yang membimbingnya dan harus mencari makan sendiri. Ketika makanan anak salmon itu sudah habis (plankton) dia akan keluar dan berenang menuju lautan untuk mencari makan. Di air lautan inilah salmon bertumbuh kembang hingga usia dewasa dan siap untu berreproduksi (4-7 tahun).

Pada tahun-tahun pertama hidup dilautan, salmon sangatlah rentan untuk bertahan hidup. Mereka mengalami ancaman yang sangat kritis dari para pemangsanya. Seperti angjing laut, beruang, burung juga manusia yang sama-sama menjadi ancaman bagi kelangsungan hidupnya. Sehingga tidak banyak dari mereka yang bisa bertahan hingga dewasa.

Ada keunikan lain dari salmon ini, dimana ketika mereka sudah dewasa dan siap berreproduksi. Mereka akan mencari kembali tempat dimana menetas dulu, yaitu di perairan tawar. Dan ajaibnya (Subhanallah…) mereka bisa menemukan jalan menuju tempat mereka menetas. Padahal secara logika manusia, sulit untuk mengingat jalan pulang. Apalagi dengan kondisi bertahun-tahun hidup dilautan. Tetapi itulah kekuasaan dari Sang Maha Pencipta.

Kemudian untuk bisa mencapai tempat dahulu mereka menetas dan menelurkan telurnya. Mereka harus menerjang arus sungai yang deras. Perjalananya tidak sebentar dan memerlukan perjuangan untuk mencapai tempat tujuan. Bayangkan saja selain ancaman dari para predator, selama perjalanan salmon berpuasa. Mereka tidak makan selama perjalanan. Mereka hanya mengandalkan cadangan lemak ditubuhnya. Sehingga berat badan mereka hilang sampai sepertiganya.

Hingga mencapai tempat tujuan, dengan kondisi lemah salmon mengali lubang didasar sungai untuk dijadikan sarang dengan ekornya. Salmon betina menelurkan telur (3.000-8.000 butir) kemudian dibuahi oleh sperma dari salmon jantan. Ketika sudah dibuahi mereka diam saja dan menunggu telur-telurnya. Namun sayangnya mereka tidak bisa bertahan hidup samapi telur-telurnya menetas. Karena kondisinya lemah (tidak makan). Bangkai mereka akan dimakan oleh para predator atau terurai (dengan bantuan bakteri) menjadi pupuk alami. Pupuk alami ini adalah makanan dari plankton yang notabene makanan pertama dari salmon kecil. Sehingga dengan kata lain, induk salmon mengorbankan diri untuk menjadi makanan anak-anaknya. Subhanallah…. Luar biasa….

Begitulah kira-kira siklus hidup dari si ikan mahal ini. Dari siklus tersebut ada beberapa hikmah yang bisa kita ambil. Hikmahnya antara lain adalah kemandiriaan, perjuangan, dan pengorbanan. Ketiga hikmah ini akan bermuara pada pencarian tempat kembali kita sebagai seorang manusia. Seperti pencarian yang dilakukan salmon untuk kembali pada tempanya berasal.

Memang dalam konteks kehidupanpan manusia. Nilai dari hikmah-hikmah tersebut sangatlah luar biasa jika 
diterapkan pada kehidupan manusia. Manusia akan menjadi berarti, bermanfaat juga dikenang sebagai seorang yang besar. Penerapan nilai tersebut semical kemandirian dalam kehidupan. Seorang anak didik hidupnya dengan kemadirian (tidak menggantungan kepada orang lain) tentu akan berbeda dengan anak yang selalu dimanja. Pada pertumbuhannya dia akan memaknai bahwa hidup ini adalah perjuangan. Bahwa hidup itu tidak ada waktu unutk bergantung tangga. Dalam kesehariannya pun tidak akan melewatkan waktu untuk sesuatu yang tidak penting. Ketika dihadapkan dengan permasalahan, dia tidak akan lari tetapi akan menghadapinya. Sehingga sikap dewasa perlahan akan muncul pada dirinya.

Sikap dewasa inilah yang akan mengakibatkan seseorang menjadi peka terhadap sekitarnya. Kepekaan sosial ini mendorong dirinya untuk berkontribusi dan memberikan kebermanfaatan bagi sekitarnya. Dalam mereaslisasikan kepekaannya, tidak jarang dia berkorban harta, pemikiran, jiwa dan raga untuk sekitarnya.
Dengan sendirinya, orang-orang yang merasakan kebermanfaatan itu akan mengengang sendiri, jika banyak orang yang merasakan kebermanfaatnya, maka akan banyak pula yang mengenangnya. Sehingga dia akan menjadi seorang yang besar.

Tetapi apalah artinya semua itu (seorang yang besar) jika tidak dilandasi dengan keimanan terhadap yang Maha Pengatur. Sesungguhnya dia akan kembali kepada Sang Penciptanya. Untuk itulah hikmah-hikmah dari pelajaran ikan salmon itu bermuara pada tempat ia kembali. Tuhan Sang Maha Pencipta Allah SWT.
Semoga Menginspirasi, Salam….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar